Sabtu, 25 Agustus 2012

Asal Usul Balon

Meski mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, referensi tentang balon ternyata sulit ditemukan. Menurut Jean Merlin Kaufman dan Greenverg pada tahun 1994, masyarakat Astec-lah yang pertama kali membuat balon. Bahan bakunya usus besar kucing dan tujuannya sebagai persembahan bagi dewa. Namun ada pendapat lain, yang mengatakan balon sederhana zaman dulu dibuat dari kandung kemih hewan yang diisi air. Kabarnya itu pernah dicatat selama masa Renaisans (abad XIV - XVI) di Eropa. Bagian-bagian tubuh binatang khususnya kandung kemih, usus dan perut menjadi "bahan" utama balon kuno. Konon, usus punya kelebihan,bisa fleksibel dibentuk. Namun tentunya binatang berbeda akan memberikan ukuran yang berbeda pula.

Menurut Jacques Dupin Grouvhard dalam The Mayanaise Connection, proses pembuatan demikian perlu waktu beberapa hari. Betapapun dalam pemilihan bahan utama suku Maya juga menggunakan organ yang sama. Bagaimana dengan bahan utama karet seperti yang kita kenal sekarang?. The Book of First karya Patrick Robertson, Bramhall House New York tahun 1978 menyebut nama Michael Faraday sebagai pembuat balon karet pertama tahun 1824. Pembuatan balon itu sebenarnya dalam kaitan dengan percobaannya menggunakan hydrogen di Royal Institution di London.

Dalam "Quarterly Journal of Science" di tahun yang sama, cara pembuatannyapun sederhana 2 lembar karet dipotong bulat, ditumpuk lalu dipres sisinya, otomatis karet melunak dan menempel. Bagian dalam antara 2 lembaran itu dibedaki tepung agar tidak saling lengket. Pada tahun berikutnya, balon mainan sebagai produk massal baru sudah diperkenalkan oleh produsen perintis karet Thomas Hancock, tapi bentuknya berupa 1 set alat yang terdiri atas sebotol karet cair dan alat tiup. Baru tahun 1847 balon mainan yang lebih tahan terhadap perubahan temperatur, dibuat pertama kali oleh J.G Ingram dari London. Balon itu bisa disebut prototipe balon modern. Balon terus berkembang, baik variasi bentuk maupun kualitasnya, sehingga tidak mudah meletus. Malah ada produsen yang menyebut balonnya modern, karena dibuat dari karet alami ramah lingkungan, yakni lateks pohon Hevea. Dengan proses alamiah ia akan hancur. Secepat membusuknya dedaunan, karet itu akan menjadi vitamin bagi tanah." Lalu, muncul seni "patung" balon dari balon panjang. Seni itu dimulai sejak tahun 1920-an, tapi baru populer setelah PD II. Terlebih setelah diproduksi balon pensil, yang amat langsing. Mengenai bentuknya? Apapun bisa dibuat. Malah di luar negeri sering digelar kontes yang menunjukkan begitu beragamnya hasil olahkreativitas dan keterampilan peserta. Mau coba?.

Asal Usul Kartu Remi

Kartu Remi

Kita telanjur mengenalnya sebagai kartu “remi”. Padahal “remi” sebenarnya nama salah satu permainan kartu yang oleh orang Inggris disebut playing cards atau card game.
Ada 1001 macam permainan kartu. Setiap negara bahkan wilayah suatu negara memiliki jenis permainannya sendiri. Di Tanah Air kita akrab dengan istilah permainan “empat-satu”, “remi”, “cangkulan”, dsb. Namun, yang populer di banyak negara misalnya poker, canasta, blackjack, casino, solitaire, bridge dengan jumlah pemain yang bisa berbeda-beda.

Solitaire dan bridge bagi kita barangkali lebih familiar ketimbang yang lain. Solitaire, yang sudah dimainkan orang sejak ratusan tahun lalu - dan banyak jenisnya - itu dimainkan sendirian, terutama untuk mengisi waktu luang. Jangan heran kalau menjelang jam kerja berakhir di kantor-kantor, mudah dijumpai karyawan asyik memainkannya di layar komputer pribadi (PC), bukan dengan kartu betulan. Maklum, solitaire menjadi program game standar yang diinstall di PC. Sedangkan Bridge yang harus dimainkan oleh empat orang–biasanya berpasangan– bahkan menjadi salah satu nomor andalan tim Indonesia dalam dunia olahraga untuk meraih suatu kemenangan dalam turnamen Bridge Internasional.

Seperti kita kenal sekarang, satu pak kartu remi berisi 52 lembar. Dibagi menjadi empat suit atau jenis kartu (Spade, Heart, Diamond, Club), masing-masing terdiri atas 13 kartu (dari As, 1, 2, dst. sampai King). Plus kartu tambahan berupa dua kartu joker, hitam dan merah.

Kapan dan siapa penemu kartu remi tidak diketahui secara pasti. Diduga embrionya berasal dari daratan Cina atau Hindustan sekitar tahun 800. Bagaimana ceritanya sampai bisa masuk ke Eropa pun agak samar-samar. Mungkin dibawa oleh para pedagang, tentara, atau suku-suku nomaden. Yang jelas, jenis permainan kartu ini-entah datang dari Timur, Mesir, atau Arab-muncul di Italia kira-kira akhir tahun 1200-an. Setelah itu menyebar ke Jerman, Prancis, dan Spanyol.

Sejumlah ahli sejarah menduga, kartu permainan itu hasil evolusi dari sejenis permainan catur yang dimainkan oleh para gembala di Asia Barat. Sambil menggembala, mereka bermain catur memakai kerikil. Ahli lain berpendapat, permainan kartu merupakan evolusi dari semacam upacara untuk berkomunikasi dengan para dewa. Empat batang tongkat atau anak panah yang sudah ditandai dengan empat simbol berbeda, dilemparkan ke atas altar. Tongkat mana yang jatuh, itulah yang diinterpretasikan sang pendeta sebagai titah dewa.

Kartu pertama di Eropa (Italia) disebut Tarot (tarrochi) atau tablet nasib karena bentuknya seperti tablet, dan digunakan antara lain untuk meramal nasib. Tarot tertua berasal dari tahun 1470 di Lombardy. Satu setnya 50 kartu, dibagi menjadi lima kelompok masing-masing 10 kartu. Pada permukaannya terukir tema-tema alegori atau mitologi tentang berbagai aspek kehidupan seperti ilmu, seni, planet, dsb.

Tarot terus berevolusi. Tarot Venetia jumlahnya 78 kartu, termasuk sebuah kartu - namanya il matto (si pandir)-yang diduga sebagai cikal-bakalnya joker modern.

Dulu kartu permainan terbatas dinikmati kaum berduit mengingat harganya mahal. Maklum, masih buatan tangan dan gambarnya hasil lukisan. Setelah sistem cetak dengan kayu ditemukan, kartu menjangkau masyarakat ramai. Produksi makin meningkat setelah ditemukan teknik cetak dengan plat tembaga. Ditemukannya proses reproduksi warna dengan teknik litografi di awal 1800-an makin mendorong munculnya kartu-kartu cantik dari Jerman, Italia, dan Prancis.

Sejarah tidak mencatat siapa sebenarnya sosok Jack, Queen, dan King pada kartu modern. Namun tokoh pada kartu-kartu sebelumnya terus berganti dari waktu ke waktu. Pada kartu tua dari Italia dan Spanyol, keempat kartu King-nya menggambarkan para raja dari kerajaan besar dunia Abad Pertengahan. Lalu ketika Raja Henry III dari Prancis naik tahta, kostum para bangsawan pada kartu berubah mengikuti mode di zaman itu.

Masih banyak misteri belum terjawab secara memuaskan. Misalnya, kenapa kartu Jack disebut Jack, bukan pangeran atau gelar bangsawan lain? Mengapa Jack bermata satu? Kenapa pula Jack Hati tidak berkumis?

Asal Usul Kamera

Siapa sih Daguerre itu sampai perlu diterimakasihi? Pelukis asal Prancis bernama lengkap Louis-Jacques Mande Daguerre ini memang tidak sepopuler Kodak, yang mendunia sebagai merek kamera. Padahal lelaki kelahiran 18 November 1787 inilah bidannya dunia fotografi.

Awalnya, Juli 1822, Daguerre membentuk sebuah teater. Dalam sebuah pertunjukannya, ia membuat kejutan dengan menghadirkan lukisan ilusi yang membuat pertunjukan semakin "hidup". Kunci dari semua itu adalah camera obscura (ruang gelap), sebuah kotak persegi dengan bukaan lubang kecil yang memproyeksikan objek di luar ke dalam dinding alat tersebut dalam keadaan terbalik. Inilah pelopor kamera yang dikenal selama ini.

Prinsip ini sudah diketahui Aristoteles 2.000 tahun lalu. Bahkan ilmuwan dan penulis Italia, Giambattista della Porta, di akhir abad ke-16 sudah menjelaskan secara lengkap penggunaan camera obscura dengan lensa. Sampai abad ke-18 camera obscura menjadi mainan para pelukis untuk menjiplak objek dari alam secara akurat. Tapi semuanya masih belum bisa menghadirkan gambar itu secara permanen.

Lalu datanglah Nicephore Niepce yang tinggal di Chalonsur-Saone, 189 mil tenggara Paris. Hobinya pada litografi menuntunnya masuk dunia fotografi. Dalam proses ini gambar dipindahkan ke batu litograf. Untuk membuat gambar Niepce mengandalkan keahlian anaknya. Sayang, anaknya masuk dinas militer sehingga Niepce akhirnya mengandalkan cahaya untuk melukis gambar yang diinginkannya.

Niepce meminyaki lukisan sehingga transparan, kemudian meletakkannya di atas lempengan yang dilapisi larutan sensitif-cahaya dan memanaskannya pada cahaya Matahari. Setelah beberapa jam, wilayah terang lukisan akan mengeras, sedangkan bagian gelap akan tetap lembek yang bisa hilang dengan mencucinya, meninggalkan jiplakan lukisan. Tahun 1826 - 1827 Niepce menghasilkan gambar pemandangan halaman depan rumahnya dengan menggunakan camera obscura yang dipasangkan dengan lempengan campuran timah putih dan timah hitam. Dibutuhkan waktu pencahayaan sekitar delapan jam untuk memperoleh gambar itu. Sayang, hasil yang diperolehnya masih terlalu gelap (underexposed).

Pada 4 Desember 1829, Niepce dan Daguerre menjalin kerja sama untuk memperbaiki hasil yang sudah dicapai Niepce. Lembaran timah tadi diganti dengan lempengan tembaga yang dilapisi perak, dan kemudian diproses menggunakan larutan iodium. Percobaan terus dilakukan dengan menggunakan perak iodium yang dilemahkan dalam air raksa. Waktu pencahayaan bisa dipersingkat menjadi setengah jam. Memang, hasilnya belum bisa permanen. Baru tahun 1837, empat tahun setelah kematian Niepce, Daguerre bisa mengawetkan gambar yang didapat dengan melarutkannya dalam larutan garam dapur. Prosesnya diberi nama daguerreotype. Sedangkan proses temuan Niepce dinamai heliograph (karena menggunakan sinar Matahari).

Gambar yang dihasilkan oleh Daguerre tidak bisa dicetak ulang. Untuk mencetak ulang harus digunakan film. Cara pembuatan film ini pertama kali ditemukan oleh orang Inggris, William Henry Fox Talbot. Film buatan Tabot berupa gambar di atas kertas yang peka cahaya dan kemudian dibuat transparan dengan bantuan cahaya lilin. Dari sini, fotografi berkembang lagi. Setelah film negatif dan positif (slide), kini citra hasil jepretan kamera sudah bisa disimpan dalam bentuk data digital. Jadi, enggak perlu film lagi.

Ngrumpi soal fotografi, Indonesia termasuk mujur sebab dua tahun semenjak fotografi ditemukan manusia, temuan itu sudah masuk ke Indonesia (yang waktu itu bernama Hindia Belanda). Adalah Dr. Jurriaans Munich yang datang ke Indonesia atas permintaan pemerintah kolonial untuk membuat rekaman-rekaman gambar. Setelah itu, menyusul dua pria Inggris Walter Wood Burey dan James Page pada 18 Mei 1857.